Berita Terpanas, Ryan sang pembunuh berdarah dingin
Berita Paling hangat dalam sepekan ini adalah berita kasus pembunuhan berdarah dingin yang dilakukan oleh RYAN JOMBANG
Verry Idam Henyansyah alias Ryan bisa dibilang pembunuh berdarah dingin. Betapa tidak, lelaki homoseksual itu telah menghabisi nyawa 11 korban. Sebagian besar korban dikubur di rumah orangtuanya di Desa Jatiwates, Jombang, Jawa Timur.
Jumlah korban kemungkinan bisa bertambah. Pasalnya masih ada laporang orang hilang yang memiliki hubungan dengan Ryan. Polisi kini terus menelisik kemungkinan itu.
Korban pertama Ryan adalah Guntur yang dibantai Agustus 2007. Korban adalah teman Ryan yang tinggal di Nganjuk, Jatim. Korban kedua Agustinus Fitri Setiawan alias Wawan. Wawan teman fitnes Ryan yang dilaporkan hilang sejak 8 Agustus 2007.
Dua bulan berikutnya giliran Muhammad Ahsony yang menjadi korban. Karyawan PT Tjiwi Kimia itu dikubur di belakang rumah orangtua Ryan. Januari 2008 dengan cara sama, yakni pukulan benda keras di bagian belakang kepala, Ryan mengeksekusi Grendy, warga Belanda.
Masih di bulan yang sama Ryan membunuh penyiar radio Gita FM Zainul Abidin alias Zaki. April 2008, Ryan mengeksekusi Vincent. Lelaki asal Wonogiri, Jawa Tengah, adalah anggota Marcella Gymnastic dan pencinta boneka seperti Ryan.
Pada April 2008, Ryan kembali mengeksekusi Nanik Hidayati dan putrinya, Ssilvia. Keduanya dihabisi usai membeli emas. Beberapa hari kemudian giliran Ariel Somba Sitanggang menjadi korban. Ariel adalah teman sekamar Ryan di Setiabudi, Jakarta Pusat.
Pada 11 Juli 2008, Ryan membantai dan memutilasi Heri Santoso. Hidup Heri disudahi di Apartemen Margonda Garden Residence Depok, Jawa Barat. Mayat Heri kemudian ditemukan di Jalan Kebagusan Raya, Ragunan, Jakarta Selatan. Dari penemuan mayat Heri inilah semua kebiadaban Ryan terkuak.(***)
Ditulis pada Juli 29, 2008 oleh Riauku’s blog
Ryan diduga kuat sebagai pelaku pembunuhan terhadap beberapa orang yang jasadnya sebagian dikubur di belakang rumah orangtuanya di Jombang. Sementara itu, korban terakhir, Heri Santoso, dimutilasi dan potongan-potongan tubuhnya dimasukkan dalam beberapa koper.
Sebelumnya, Ryan yang dikeler ke Surabaya, Minggu (20/7) lalu, masih merasakan sejuknya mesin pengatur udara (AC) di kamar hotel. Polisi dari Polda Metro Jaya yang membawanya tidak langsung menitipkan Ryan di sel Polda Jatim. “Baru setelah pembongkaran tempat penguburan empat korbannya di Jombang, Ryan dimasukkan ke sel,” ujar seorang anggota Reserse Kriminal (Reskrim) Polda Metro Jaya, Rabu (23/7).
Meski berperilaku kemayu, di sel Polda tak ada tahanan lain, termasuk tahanan lelaki, yang berani mendekati Ryan.
“Tidak tampak sama sekali (kemayunya). Dia justru seperti sosok yang jantan dengan tubuh yang gempal dan tinggi. Saya juga heran kalau selama ini disebut dia berperan sebagai perempuan ketika berhubungan intim dengan pasangannya yang sesama jenis,” urai Kasat Pidana Umum (Pidum) Polda Jatim AKBP Susanto, Rabu.
Karena tidak memiliki teman, seekor kucing yang sudah jinak dipilih Ryan untuk menemaninya. “Selama tidur, dia memeluk kucing itu. Dipeluknya dengan rapat, seperti memeluk guling,” ujar seorang petugas yang ikut menjaga Ryan di tahanan.
Status Ryan cukup “istimewa” dibanding tahanan lain yang menghuni sel Polda Jatim. Dia mendapatkan pengawasan cukup ketat dan khusus agar tak terjadi sesuatu yang tak diinginkan. “Orang seperti dia lebih bahaya dari perampok. Siapa tahu di dalam tahanan tiba-tiba bunuh diri atau justru membunuh teman satu bloknya,” katanya.
Padahal, selama menjalani penyidikan, tidak ada kesan buas dan kasar pada sosok Ryan, yang selama ini menjadi instruktur senam dan aktif di pusat kebugaran. Wajahnya yang bersih, tampan, dengan postur tubuh yang tinggi membuatnya tak terlihat seperti sosok pembunuh. “Tapi kita takut juga saat menyidik dia. Siapa tahu, saat kita konsentrasi pada materi penyidikan, tiba-tiba dia memukul,” ujar seorang polisi.
Sebagai antisipasinya, semua benda keras seperti asbak, piring, dan gelas dijauhkan dari Ryan selama menjalani proses penyidikan. Pengetahuan polisi soal watak Ryan sebagai pembunuh berdarah dingin itu didapat dari pengakuannya selama diperiksa.
Dalam penyidikan, Ryan memang tak selalu diborgol, sebagai perangsang agar dia mau lebih terbuka memberi keterangan. Diberitakan sebelumnya, kondisi Ryan kerap agak labil sehingga keterangannya bisa berubah-ubah. Dalam pengakuan Ryan, seluruh korban yang dibunuh dan dikubur di pekarangan rumahnya di Jombang dihabisi saat mereka lengah.
“Biasanya diajak jalan-jalan dulu ke kebun di belakang rumahnya. Setelah lengah, baru korbannya itu dipukul,” ujar Susanto.
Rata-rata, para korban itu dihabisi sekitar pukul 10.00. Tak ada orang lain yang membantunya, mulai saat mengeksekusi hingga menguburkan di pekarangan rumah. Apakah orangtua Ryan tak tahu? Biasanya, eksekusi itu dilakukan saat kedua orangtuanya berada di rumah anaknya yang lain di Sidoarjo.
“Sehingga begitu leluasa dia melakukan pembunuhan itu. Apalagi tetangga yang ada di kiri-kanan rumahnya itu masih terhitung kerabatnya semua,” ujar seorang polisi.
Ryan adalah anak pasangan Akhmad dan Siyatun. Keduanya menikah dalam status duda dan janda. Dari pernikahan sebelumnya, Akhmad mempunyai seorang anak. Demikian pula Siyatun.
|
ryan–pelaku mutilasi berdarah dingin
|

ya, benar-benar sadis pembunuhan yang telah Rian. Apakah Dia tidak takut dengan hukum masyarakat, apalagi dengan hukum Tuhan??? Naudzubillah mindzalik…. Mudah-mudahan Dia dapat sadar dan akan bertaubat secepatnya. Amin