Membicarakan Perasaan Vs Menempatkan Perasaan Dalam Perilaku

30, Juli 2008 07:18 WIB

Kadang-kadang, kita nggak tahu apa kata yang tepat untuk menggambarkan hal yang kita rasakan, bahkan kita juga nggak bisa mengenali perasaan tersebut. Dunia dalam diri kita nggak berbeda dengan ruang biasa. Kalau cukup lama nggak kita acuhkan, banyak hal menumpuk di sana, lalu kita nggak bisa mendapatkan apa pun di didalamnya. Jadi kita banting saja pintu hati kita, sambil berharap, suatu hari nanti, saat membukanya, hai kita secara ajaib sudah bersih dengan sendirinya. Atau, kita biarkan saja sampai sudah sangat kacau. Dan mungkin kalau sudah begitu, kita baru sadar dan mulai belajar memilah-milah.

Menurut perasaan kita, apa yang kita dapta dari kebisuan emosional seperti itu? Kenapa? Apa yang kita takutkan kalau kita membuka diri? Kita mungkin sedang duduk di atas gumpalan besar emosi yang takut kita ungkapkan. Membayangkan hal itu seperti membuat kita lumpuh. Kita pikir, kalu kita nggak membicarakannya, kekuatannya atas diri kita akan hilang. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Emosi yang nggak diungkapkan akan semakin kuat. Renungkan ini. Ini benar! :)

Kalau kita nggak membicarakannya masalah kita, sutatu saat nanti masalah kita akan menyeruak dalam tingkah-laku. Mula-mula, memang sulit membicarakannya karena hati kita masih terasa kebas, dan apa pun yang sedang terjadi belum terasa nyata.. Di titik ini, rasa sakit dan pedih bisa merembes keluar tanpa kita sadari. Luka di hati nggak bisa hilang secara ajaib—nyeri emosional perlu diucapkan, dibicarakan, dibagi dan didengarkan. Kalau nggak, rasa sakit itu akan keluar lewat tindakan kita. Nggak perlu harus selalu peristiwa traumatis itu sendiri yang menimbulkan luka seumur hidup, tapi juga kalau trauma itu nggak pernah dibicarakan. Kalau stress, trauma dan rasa sakit hati dipendam diam-diam, mereka akan tumbuh dalam diri kita. Berbicara tentang perasaan akan melepaskan cengkeraman perasaan itu dari dalam diri kita. Dengan membicarakannya, kita bisa memahami masalah kita, bukannya memendam dalam hait, bak batu berat yang tak bisa digeser. Maksud dari semua ini jelas. Membicarakan hal yang kamu rasakan itu baik untuk kesehatanmu.

Sumber: It’s My Life, DIARY PLUS*BUAT REMAJA, karya Tian Dayton

3 Tanggapan

  1. Pemilu di indonesia belum baik
    karena banyak yang golput, karena belum puas dengan pemerintah sekarang

  2. kadang kadang saya juga sulit mengungkapkan perasaan karena itu sudah tertanam dari kecil saya ini waktu kecil adalh orang yang punya teman sedikit tapi sekarang berubah apakah mungkin setiap perasaan berontak saya akan dunia ini yang membuat saya menjadi orang teraneh di BEC ya ? eh ya menurut teh nur sendiri bagaimana apakah saya mempunyai kelainan jiwa jujur saja

  3. teh nur mana aja ga pernah kedengeran lagi kabarnya,
    na slut ma t’uus p’bicaraannya tentang politik trus,
    teh keep istiqomah n smgt ………………………………………..
    Allahuakbar

Tinggalkan Balasan